Desain Premium Ala Huawei
Pemilihan desain layar sentuh seakan sudah menjadi hal wajib bagi sebuah ponsel pintar. Tengok saja desain ponsel layar sentuh yang diadaptasi pada Huawei Sonic. Meski bukan pertama kali Huawei menggunakan desain ponsel layar sentuh, setelah sebelumnya menggelontorkan Ideos X1, Ideos X3, dan Ideos X5. Desain ponsel layar sentuh juga hanya menyematkan beberapa tombol saja yang diangggap penting. Seperti tombol power untuk mengaktifkan ponsel dan tombol volume. Selebihnya, mengandalkan kemampuan jari tangan untuk memberi perintah pengoperasian.
Android Gingerbread Inside
Meski bukan pertama kali merilis ponsel pintar berbasis Android, namun Huawei Sonic sedikit berbeda dengan ponsel berbasis Android sebelumnya. Jika seri Ideos masih menggunakan Android versi 2.2 Froyo, Sonic sudah mengadaptasi Android versi 2.3.3 Gingerbread di dalamnya. Tampilan User Interface juga sama seperti ponsel Android kebanyakan yang bisa menambahkan dan mengurangi widget di layar homescreen. Uniknya tampilan homescreen menyerupai kubik hanya perlu diputar untuk melihat layar homescreen pada halaman lain.
Kamera 3.15 MP Tanpa Flash
Ponsel pintar dengan segudang fitur andalan seperti yang dibenamkan dalam Huawei Sonic. Salah satunya fitur kamera berkekuatan 3.15 megapiksel. Sayangnya kamera tidak dilengkapi dengan penambahan flash light untuk memaksimalkan hasil foto. Oiya… jika ponsel pintar lain sudah menyematkan kamera depan untuk self portrait dan panggilan video, Huawei Sonic belum mengakomodir kebutuhan itu. Namun meski tanpa dilengkapi dengan penambahan flash light, hasil foto saat cuaca cerah dan mendung sekalipun tetap terlihat bagus.
Kondisi serupa juga diperoleh ketika T&t coba mengambil foto di dalam ruangan. Jika kondisi kurang pencahayaan, jangan heran jika hasilnya kurang maksimal dan ditemukan banyak noise pada hasil gambar. Hal serupa sayangnya tidak bisa didapatkan secara maksimal ketika modus video diaktifkan. Resolusi kamera untuk kemampuan rekam video hanya sebatas VGA saja. Jadi tidak mengherankan jika hasil rekam kurang maksimal dan ditemukan noise. Minim pencahayaan juga sangat berpengaruh pada hasil rekam video.
Kualitas Audio Gress
Belum lengkap rasanya jika unsur multimedia hanya sebatas foto dan video saja. Terasa lebih lengkap jika aspek multimedia juga menyentuh kualitas audio yang dimiliki didalamnya. Ketika mencoba merasakan sensasi suara yang dihasilkan sambil bermain game Lets Golf, terdengar jelas suara dari audience dan pukulan bola golf yang melambung terdengar jelas.
Hal serupa juga dirasakan ketika menyambungkan earphone ke telinga untuk menikmati petikan gitar dari duo asal Jepang, Depapepe melalui lagu Kazemidori. Kualitas audio yang ditawarkan Huawei Sonic bukan hanya nyaman ketika disambungkan melalui earphone, tetapi juga nyaman ketika digunakan melalui loudspeaker.
Prosesor Hanya 600MHz
Bukan hanya itu, Sonic juga sudah disokong dengan penggunaan prosesor berkecepatan 600MHz. Ketika T&t coba mengoperasikan dan membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan, sayangnya beberapa kali lack. Bahkan diluar perkiraan ponsel mendadak hang dan merestart otomatis. Sangat disayangkan terutama ketika sedang asyik mengunduh beragam games dan aplikasi dari Android Market.
Kemampuan prosesor yang T&t rasakan ketika sedang digunakan untuk berinternet terasa kurang maksimal. Terlebih ketika hanya mengandalkan kemampuan sinyal operator untuk mendownload beragam aplikasi. Beda halnya ketika mendownload aplikasi menggunakan jaringan WiFi, kemampuan ponsel merespon jauh lebih baik. Ketika mendownload tiga aplikasi sekaligus hanya memerlukan waktu kurang dari dua menit.
Opini
Meski bukan ponsel pintar berbasis Android pertama, namun Huawei Sonic terasa pas dengan dukungan Android Gingerbread dan bobot yang lebih ringan dari pendahulunya. Ditambah dengan kemampuan daya baterai yang bertahan lebih lama dibanding keluarga Ideos.
Kelebihan
- Desain premium dan terkesan mahal
- Hasil foto bagus
- Bobot ringan
Kekurangan
- Layar kurang responsif
- Ponsel kerap merestart sendiri