T&t Magazine - Inspiring Your Techno Style

Switch to desktop Register Login

ZTE merupakan salah satu vendor branded atau vendor global yang cukup kuat. Selama ini pemain asal negeri tirai bambu ini dikenal sebagai vendor jaringan dan juga produk CDMA yang dibundling dengan operator. Untuk peralatan telekomunikasi, kini ZTE mulai merubah strategi nya ke open market. T&t berkesempatan mewawancarai Susanto Sosilo, Direktur Divisi Perangkat dari ZTE Indonesia.

Sebagai tokoh yang cukup lama berkecimpung di dunia telekomunikasi, bagaimana Anda melihat perkembangan telekomunikasi hingga saat ini?
Dulu mungkin telekomunikasi hanya voice dan data (SMS). Kalau kita bicara konvergen mungkin sejak 10 tahun lalu memang sudah ada. Dan baru saat ini kejadian nya.

Apakah tablet yang diluncurkan ZTE merupakan bagian dari konvergensi antara Telekomunikasi dan IT (Information Technology)?
Ya, betul.

Mengapa ZTE memilih tablet dengan layar 7 inchi?
Karena kalau kita bicara smartphone paling layar 4,3 inchi. Lebih besar lagi sudah tidak dibilang phone lagi. Sementara dari IT (Information Technology) dan PC, 17 inchi, 14, 13, 12, terakhir mungkin 10. Sekarang bagaimana kita berfungsi di 2 bagian itu. Nah makanya ada tablet.

Apakah ZTE terlambat dibandingkan yang lain?
Tablet memang sudah dimasuki oleh hampir semua pemain. Tapi untuk Indonesia mengapa ZTE masuk? Bukannya tahu-tahu ZTE masuk sini. Ya memang sudah waktunya saat ini. Di dalam roadmap nya ZTE memang sudah ada.

Yang cukup menarik juga, ZTE mengawali momen masuk ke Open market secara resmi melalui tablet ZTE Light. Bagaimana menurut Anda?
Ya memang waktu nya ini sekarang. ZTE saat ini belum masuk ke open market. Kalau dibilang open market itu kan jualan langsung nih. Tidak dibundling. Tidak dijual ke operator. Tapi jual di Roxy, Cempaka Mas, dan lain-lain. Itu betul-betul pasar yang free. Kalau tidak disenangi sama pemakai, ya habis. Dalam hal ini dengan ZTE yang tadinya bermain di pasar operator, sekarang masuk ke pasar open market

Jadi syaratnya bagi sebuah vendor handset untuk masuk ke open market itu apa saja? Mungkin ada juga kompetitor yang sudah masuk, tapi ada juga yang masih belum. Seperti apa?
Kalau kita masuk ke open market, itu decision atau keputusan yang mempengaruhi (katakanlah seperti Indonesia saat ini), keputusan ada di tangan end user. Sedangkan kalau misalnya operator market, keputusan sebagian dipengaruhi oleh operator.
Misalkan Anda beli suatu produk, OK lah yang bundling dengan Esia, atau Anda bilangnya Esia Phone kan? Anda bisa milih nggak? Enggak kan? Yang ini ya ini… gitu kan. Smartfren yang ini ya ini ..gitu..
Tapi kalau anda masuk ke open market, kalau anda memang survive di situ, ya harus betul-betul disukai oleh end user.

Apakah artinya sekarang ini masyarakat sudah tidak terlalu di drive oleh operator lagi?
Sebetulnya enggak juga. Dan dari dulu memang enggak. Untuk low end mungkin iya. Tapi sebetulnya kalau kita lihat dari data yang ada, data 2009-2010, pasar operator market itu kontribusinya hanya 15% dari semua pasar ponsel di Indonesia. Jadi kalau penjualan tahun kemarin misalkan rata-rata 2 juta untuk GSM, kalau CDMA mungkin sekitar 300-400 ribu ya per bulan. Itu pasar operator sekitar 15%. Ya 20% sudah hebat lah. Dan itu kalau kita bilang pasar operator itu siapa sih? bisa dibilang CDMA kan. Mana ada kalau 3 besar itu bundling, boleh dibilang nggak ada. Atau tidak secara besar-besaran.

Dan itu lambat laun semakin berkurang?
Pasti. Karena orang bilang Indonesia ini sangat unik. Padahal kalau kita lihat di negara-negara lain berbeda. Dan menurut mereka, Indonesia memang sangat unik. Di Indonesia operator marketnya justru sangat kecil. Mengapa? Karena kan operator bukan jualan ponsel. Tapi jualan service. Mereka jualan air time. Jadi ponsel nya apa saja nggak peduli. Sekali Anda jual di suatu tempat, OK ya sudah. Orang sudah pakai, ya sudah.
Sedangkan kalau Anda betul-betul masuk ke pasar bebas atau open market, ya Anda harus mati-matian dipertahankan mau merek nya apa pun. Sekali masuk ke suatu kota, Anda ya mesti pertahankan terus.

Jadi persyaratan pertama di awal tadi sudah memenuhi begitu?
Dari industri sendiri sudah menerima. Memang meskipun kecil tapi menerima. Bahwa ZTE di Indonesia memang sudah waktunya masuk ke open market.

Apa yang menjadi syarat berikutnya ketika masuk ke open market?
Branding marketing, channel marketing semua itu ya syarat utama. Harus diperhatikan. Supaya orang tertarik. Dulu ndak pakai nama ZTE juga sudah jualan. Karena, ya nggak perlu. Misalkan Anda mau beli Smartfren phone, ya sudah dapat itu ya sudah.Sekarang kan enggak gitu. Lantas gimana? Orang mesti tahu dulu. Gimana supaya orang tahu? Bisa gunakan channel marketing, dan sebagainya. Semuanya perlu dilakukan. Kalau anda eksis ya sudah bakal eksis terus.

Kalau dari internal sendiri dari ZTE persiapannya seperti apa?
Persiapan dari sisi internal, termasuk ibu satu ini (Ibu Natalia, bagian Public Corporate and Branding Manager) harus lebih aktif. Ketemu media, ngobrol, supaya dikenal.
Channel distribution sangat penting kalau kita bicara open market. Marketing tentu iya. Distribution manajemen nya harus jalan dan benar.
Services sangat penting. Karena kalau Anda beli suatu merek, Anda mesti tahu ini bakal diservice di mana.

Bagaimana kesiapan line up produk ZTE untuk masuk ke open market?
Di luar Light tab yang baru kita luncurkan ini tentu juga masih banyak produk lain. Apalagi kalau dilihat dari global, kalau dilihat dari produksi produk, kita yakin kita sangat siap.

Kesiapan distribusi seperti apa?
Saat ini kita ada sekitar 4 channel distribusi. Dan kita akan perluas atau akan kita perkuat lebih lanjut. Dan bisa dikatakan sekarang inilah kita mulai masuk.

Di kota-kota besar?
Iya, saat ini masih di kota-kota besar. Dan kita akan masuk ke kota-kota lain. Untuk Jawa, selain yang sudah ada saat ini, Jawa Tengah pasti kita masuk. Jawa Timur sudah, Sumatera utara (Medan), dan wilayah-wilayah lainnya.

Untuk branding seperti apa? Bagaimana persiapannya?
Untuk branding, itu harus wajib sekarang. Kalau dulu ndak perlu ada ZTE nya ndak apa-apa.
Sekarang wajib.
Kita sudah mulai. Salah satunya dengan acara peluncuran ini, roadshow supaya orang mulai kenal, dan seterusnya. Supaya orang mulai kenal. Walaupun sebetulnya kebanyakan orang sudah mulai tahu juga. Terutama Jawa Timur cukup kuat kita

Pandangan orang terhadap ZTE selama ini seperti apa?
Kebanyakan ZTE dipandang sebagai CDMA. Karena memang kita sejak dulu kuat di CDMA. Seperti di Jawa Timur juga yang bekerjasama dengan operator. Semua operator yang menyediakan telepon murah. Tapi sekarang kita enggak. Ternyata sekarang ada GSM, ada Light tab, atau tablet. Jadi merubah image itu penting.

Merubahnya ke arah mana?
Ya salah satu cara dengan masuk nya tab ini. Kita ketahui tab ini kan tablet, GSM dengan sistem operasi Android. Nah itu merupakan image baru lagi bagi konsumen terhadap ZTE.

Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

T&t Magazine © Digital Publishing Dept. - Tren Media Group. All rights reserved.

Top Desktop version