T&t Magazine - Inspiring Your Techno Style

Switch to desktop Register Login

23 Nov

Relokasi Pabrik dari Cina ke Indonesia

Mari selesaikan masalah industri ponsel dalam negeri. Relokasi pabrik perakitan ke Indonesia. Alihkan devisa ke dalam negeri. Indonesia bisa karena didukung tenaga kerja produktif.

Buying power masyarakat terhadap ponsel masih cukup tinggi. Karenanya, industri perponselan masih menjanjikan. Jika kita ingin mandiri dalam industri ponsel, lakukanlah sesuatu yang baru, pelajari dan mulai dengan yang simpel. Di industri ponsel dalam negeri, kita bisa mulai dengan assembling atau perakitan sendiri. Dengan membangun assembling, banyak muncul pertanyaan-pertanyaan baru. Akan muncul ide-ide kreatif.

Sekarang yang terjadi memang kita masih impor komponen. Mulai dari baterai, kabel, keypad, LCD, PCB, charger bahkan box. Padahal beberapa komponen mestinya sudah banyak yang bisa kita lakukan sendiri meski beberapa lainnya belum bisa kita lakukan.

Contohnya kardus atau box ponsel. Bukanlah sesuatu yang fantastik. Harus nya kita bisa. Saat ini semua kardus dibuat di Cina, sehingga yang mendapat pekerjaan orang dari luar Indonesia. Padahal di Indonesia banyak orang butuh pekerjaan.

Demikian juga ke depan dengan keypad, LCD, baterai, kabel, dan lain sebagainya. Bahkan kalau kita berpikir kreatif, mengapa charger harus aneh-aneh bentuknya. Disamakan saja semua. Sehingga pada saat beli ponsel tak selalu disertai charger. Sehingga box atau kardus dapat didesain lebih kecil lagi. Sampah pun berkurang.

Alihkan Devisa Ke Dalam Negeri
PT. INTI memulai keseriusan untuk menjadi perakit ponsel setelah bertemu dengan pihak Imo, salah satu pemain lokal di Indonesia. Meski pemain lokal, Imo sebagaimana para pemain lokal lainnya memiliki pabrik di Cina. INTI dan Imo sepakat untuk merelokasi pabrik dari Cina ke Indonesia untuk assembling nya. “Konsep nya sederhana, tak jauh dari “nyekrup-nyekrup” lah, plus mencoba aplikasi, dan tes software nya sesuai atau tidak,” ungkap Irfan Setiaputra, President Director PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (PT. INTI).

Saat ini PT. INTI bisa menghasilkan 5.000 unit per minggu atau 20.000 unit per bulan. Tak berapa lama menjadi 50.000 per bulan hingga target 100.000 per bulan. Ternyata Irfan Setiaputra memiliki satu kesimpulan menarik yaitu jadi pedagang di Indonesia lebih enak memang daripada membuat industri.

Namun demikian, ke depan tetap diharapkan banyak orang yang membuat ponsel di INTI. Tapi kalaupun tidak ada yang membuat di INTI, tugas kita sebagai bangsa Indonesia juga untuk “memprovokasi” agar bangsa kita sendiri juga bisa buat. Kita berharap industri tumbuh. Dan Indonesia pun bisa membuat ponsel.

Jika ini terjadi, potensi 30 juta ponsel per tahun dapat kita rebut. Kita menemukan tahun lalu 30 juta unit ponsel masuk ke Indonesia dan hal itu dikonfirm oleh Dirjen Perindustrian. Apa yang kita dapat dari 30 juta itu?

Jika kita sudah bisa melakukan perakitan, maka kita juga bisa melakukannya di perangkat lain. Karena ponsel lebih kompleks karena komponennya kecil-kecil. Perkembangan selanjutnya, kita bisa juga assembling tablet PC, netbook, PC, maupun TV. Di ponsel sendiri kita juga bisa kembangkan misalkan desain konten. Misalkan ada yang ingin dengan konten khusus, kita bisa kembangkan juga ke arah sana.

Irfan Setiaputra, President Director PT. INTI juga berharap agar teman-teman yang mengerjakan perakitan tidak selamanya mengerjakan perakitan saja. Keluar lah bersama teman-teman yang mengerjakan perakitan untuk membuat usaha perbaikan ponsel. Buat lah service center.  Karena mereka yang mengerjakan, mereka mengerti sekali bagaimana membuatnya. Harusnya jauh lebih hebat daripada orang-orang yang tidak pernah mengerjakannya langsung tapi hanya mengimpor saja.

Selanjutnya kita berharap industri telekomunikasi kita bisa mandiri yang bisa dibanggakan dan kreasi nya juga bagus. Sehingga ke depan orang pakai Imo beda rasanya karena memang dibuat di Indonesia, sementara yang lainnya masih dibuat di Cina. Dan mempunyai multiplyer effect yang beragam, membangun ekosistem, menciptakan lapangan pekerjaan.

Harusnya kita bisa ciptakan lapangan pekerjaan dengan 30 juta ponsel yang masuk ke Indonesia berdasarkan data tahun lalu. Kalau ramai-ramai buat di INTI, kan box nya bisa dipesan. Kalau bisa pesan 10 juta box saja, kan gila-gilaan. Berapa ribu orang lagi akan kerja? Bukan kompetensi INTI membuat box. Sehingga dengan peningkatan ini kita berharap membangun ekosistem.

Untuk impor hanya butuh 4 orang. Hampir tidak ada pekerja karena sebagian besar di Cina. Tapi kita juga berpikir bahwa untuk hal seperti ini saja kita kok memberi makan orang luar. Mengapa kita tidak beri kesempatan bangsa kita sendiri? Memang dari sisi margin untungnya tidak sebesar kalau jadi importir ponsel.

Dengan melakukan assembling, katakanlah margin turun dibandingkan impor ponsel. Maka kita tertantang untuk mengembalikan margin itu. Artinya kalau kita terus establish di sini, margin nya akan naik dan menjadi angka yang sama. Contohnya, jika kita impor dan kita jual, margin kita 13%. Jika kita asembling, margin kita -3%.

Tapi dengan -3% itu PT. INTI menciptakan lapangan pekerjaan sekitar 75 sampai 100 lah. Kalau ini dihargai angka harusnya sebuah kontribusi.

Kalau kita bisa lokalisir box, keypad, harusnya -3% naik lama kelamaan. Bisa kembali lagi ke 13, bahkan mungkin bisa ke 20. Mungkin juga tidak. Taruhlah hanya naik sampai 5% tapi kita punya 1000 tenaga kerja, artinya kita menciptakan lapangan kerja 1000 orang. Itu multiplyer effect nya kan 1000 rumah. Mereka butuh makan pagi, makan siang, makan malam. Memang akhirnya muncul persoalan baru. Kalau mereka demo bagaimana? Ya kita hadapi saja.

Jika lapangan kerja tercipta, maka mengurangi pengiriman TKI ke luar negeri. Kasus pemancungan TKI bisa dihindari.

Contohnya soal TKI di Arab Saudi beberapa waktu lalu. Fundamental problem nya karena kurang nya lapangan pekerjaan. Kalau di sini banyak lapangan pekerjaan, kan tidak ada yang jadi TKI.

Devisa juga jadi pertimbangan. “Misalkan harga box 5000, daripada saya kirim ke Cina, lebih baik kita kirim ke Bandung, atau Tangerang,” ungkap Irfan. Sehingga untuk pemesanan box ke depan pun kita harus lihat juga pabriknya. Jangan sampai ternyata pabrik nya juga di Cina.

Tenaga Kerja Indonesia Produktif
Kita sebagai bagian dari masyarakat tentu perlu berpartisipasi juga menyelesaikan masalah. Sehingga  berguna bagi banyak orang.

Selama ini kita banyak diskusi di area yang seksi dan fantastik tapi tidak menciptakan apa-apa. Sementara dengan kita lakukan sendiri, meski tidak fantastik, tapi kita bisa kembangkan sendiri semuanya dan bisa membantu banyak orang.

Menurut Irfan, ada juga bisikan-bisikan para agen propaganda. Misalkan, Anda punya buruh 75, 100, 500, kalau mereka demo bagaimana? ya kita hadapi saja. Mereka juga bangsa kita sendiri kok. Misalkan ada yang menakut-nakuti kalau mereka akan mogok jika tidak naikkan gaji. Ya kita buka saja. Selama ini kan kalau menuntut kenaikan gaji, kita tidak bisa atau tidak mau buka. Karena memang kita “perah” mereka. Padahal kita transparan saja.

Apakah produktifitas kita rendah? Tidak juga. Irfan Setiaputra sudah ujicoba sendiri bahwa produktifitas tenaga kerja kita bagus. Mendekati lah saat ini dibanding tenaga kerja di Cina. Sehingga jangan-jangan ini semua adalah “black campaign” bahwa Indonesia tidak bisa. Irfan mencurigai, saat ini di Indonesia banyak “agen-agen” VOC.  Mengagumi Belanda, membela asing, padahal tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Tapi hanya merasa hebat saja. Jangan-jangan semua itu propaganda bahwa tenaga kerja kita tidak produktif supaya kita tidak maju-maju?

Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

T&t Magazine © Digital Publishing Dept. - Tren Media Group. All rights reserved.

Top Desktop version