T&t Magazine - Inspiring Your Techno Style

Switch to desktop Register Login

19 Dec

Showbiz Tidak Sekedar Gemerlap

Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia tahun 2010 mencapai Rp 151 triliun atau 7,28%, di mana di dalamnya terdapat seni pertunjukan. Kontribusi terbesar terhadap pencapaian Rp 151 triliun tersebut, berasal dari  fashion sekitar 43% dan seni pertunjukan sekitar 6 %. Jika dipilah lagi dari seni pertunjukan, kontribusi showbiz baru mencapai sekitar  1%. Pertumbuhannya menggembirakan berkat kondisi ekonomi, politik dan keamanan yang semakin kondusif. Tahun 2011 mencapai rekor, yaitu sebanyak 30 pertunjukan artis mancanegara sepanjang tahun. Diharapkan tahun ini berkontribusi sekitar 2% terhadap PDB.

Untuk meningkatkan kontribusinya, dunia showbiz memanfaatkan inovasi teknologi informasi demi mendorong pertumbuhannya. Bukan saja untuk mendukung aksi panggung, tetapi juga demi pengelolaan bisnis pertunjukan.

Untuk mengetahui seluk-beluk dunia showbiz di Indonesia, wartawan T&t , Richard  WH Napitupulu dan Purnama K mewawancarai Sponsorship and Marketing Director Big Daddy (PT. Prima Java Kreasi) yang dikenal sebagai  Promoter, Ticketing & Concert Management. Pendatang baru di dunia showbiz ini tahun ini antara lain telah mendatangkan aktor Richard Gere, Linkin Park,  Disney Live Mickey's Music Festival,  Richard Marx tahun ini. Tahun depan agenda show-nya sudah terisi penuh antara lain  menghadirkan, Simple Plan, Rod Stewart, Phantom Of The Opera, Disney On Ice dan Pertunjukan Cirque du Soleil.  

Untuk mendukung pengelolaan setiap show, BigDaddy menggunakan “SABO” ( Seat Adviser Box Office), suatu sistem aplikasi penjualan dan pencetakan tiket secara online di rumah masing-masing jika diinginkan. Penonton melalui komputer di tempat masing-masing bisa memilih sendiri posisi kursi yang diinginkannya, karena pada layar komputer diperlihatkan tempat duduk beserta suasana di sekelilingnya. Di samping itu, My Ticket,  pembelian dan pencetakan tiket secara online yang lebih menjamin transparansi bagi semua pihak yang terlibat, termasuk artis bisa mengetahui jumlah karcis yang terjual dari ponsel pintar yang dimilikinya. Berikut wawancara dengan Ndang Mawardi :

Bagaimana ceritanya Anda bisa terjun di dunia showbiz atau impersariat ?

Sebenarnya not really impersariat karena impersariat itu bagian dari showbiz. Dunia ini membutuhkan expertise untuk segala macam keperluan seperti pengurusan perizinan artis, paspor dan sebagainya. Ada orang-orang khusus yang menangani hal-hal seperti itu. Mungkin boleh dibilang kita ini pemain baru di bidang promotor,tapi beberapa teman-teman di sini sudah berpengalaman di dunia showbiz. Mereka pernah bekerja di dalam negeri maupun luar negeri.

Anda sendiri sebelumnya bekerja di mana?

Kalau saya sendiri, lama bekerja di televisi selama 9 tahun. Saya dulu kebanyakan menempati posisi Head of Sales & Marketing mulai di RCTI, Metro TV dan Anteve. Sebelum di televisi, sempat di dunia periklanan sekitar 9 tahun. Awalnya di AdForce, kemudian pindah ke Grey Worldwide sebuah perusahaan periklanan yang waktu itu punya jaringan di 81 negara yang memperkerjakan sekitar 10.000 orang. Karena saya sudah banyak berinteraksi di dunia advertising , lantas masuk ke televisi tahun 2000-an. Sekarang bergiat di showbiz yang ternyata harus punya 'tujuh jantung'.

Memang seberat itu?

Begini ...kalau berhubungan dengan artis, sekali kita mencapai deal dengan artis ... then tomorrow you have to pay, even one hundred percent. Padahal pertunjukannya masih tiga-empat bulan lagi. You don't know you get the sponsor or you get the cash flow. Kita bisa jebol kalau tidak mendapatkan sponsor atau terjadi sesuatu hal yang membatalkan. Anda ingat waktu MU tidak mau datang karena ada ledakan bom. Kalau hal itu terjadi tinggal ... Ngek! (Ndang memperlihatkan gerakan memotong leher).

Anda pernah mengalami seperti itu?

Alhamdulillah belum pernah. Janganlah ! Tapi suatu pembatalan show adalah suatu hal yang lumrah. Family show yang kita adakan kemarin itu... Disney On Ice 'kan cukup sukses. Pertunjukan Linkin Park juga sukses. Alhamdulillah. meski demi untuk naik kelas di industri ini, kita terpaksa melakukan investasi di sound system  yang sedemikian mahalnya untuk menjaga standar mutu pertunjukkan bertaraf internasional.

Anda pernah kesulitan memenuhi permintaan artis?

Itu hal yang biasa, sudah menjadi pakem para artis meminta ini-itu, seperti itu terjadi dengan Linkin Park yang minta sound system dengan kriteria tertentu, ternyata terpaksa harus beli seharga USD 2 juta. Memang tidak mubazir, karena bisa disewakan lagi ke pihak lain. Peralatan itu kita datangkan dari Adamson  di  Kanada dan langsung dikirim ke Indonesia. Kita memasukkan secara normal dengan mengikuti peraturan bea cukai. Soal pajak, yang gila itu pajak  artis. Pajaknya kita yang menanggung, sebesar  20% dari total honor.
 
Dunia showbiz itu punya peranan penting, bisa menjadi indikator bagi kondisi perekonomian dan stabilitas politik-keamanan suatu negara. Menurut anda bagaimana?

Itu betul. Excactly right ...saya setuju dengan pendapat itu. Karena  sensitivity showbiz itu erat dengan ekonomi, erat dengan masalah keamanan.Jadi kalau situasi keduanya bagus, bagus pula bagi dunia showbiz.

Kalau infrastruktur bagaimana pak?  

Oh itu ...it's another thing. Itu sebetulnya masalah kalkulasi saja...soal hitung-hitungan bisnis saja. Misalnya katakanlah, artisnya mahal dan venue yang kita miliki kecil. Jadi persoalannya 'kan daya tampung gedung tempat pertunjukan kecil, maka harga tiket harus dijual mahal supaya bisa balik modal. Lantas pertanyaannya, apakah daya beli masyarakat ada untuk membelinya ? Nah di sini promoter harus pandai-pandai menghitung. dan menyiasatinya agar tidak merugi. Menyiasatinya bisa dengan melakukan negosiasi ulang dengan pihak artis atau melakukan kesepakatan baru dengan minimum guarantee. Artinya kita akan memberikan pembayaran minimum kepada artis, tapi kalau nantinya tiket terjual 90 persen misalnya, kita bayar kekurangannya. Hal seperti itu bisa saja, tergantung kita pandai-pandai melakukan negosiasi. Misalnya, artis minta dibayar sekian, kita tawarkan, anda dibayar 50% saja, nantinya sisanya akan dibayar kalau tiket laku sekian atau dari perolehan sponsorship. That's we call a modern deal of showbiz seperti itu .

Kalau dari aspek filosofi showbiz, visi seperti apa dari Big Daddy? More music concert atau family show?

Sebetulnya kita ingin lebih “to bring in the entertaiment” yang bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Even katakanlah,  we have to the dangdut, its fine with it. Atau kita harus menampilkan genre yang lain, yang kebanyakan disukai saat ini, tidak ada masalah bagi kita. Kiat sukses showbiz itu intinya melakukan sesuatu yang kreatif dan diterima semua orang. Filosofinya sederhananya saja, yaitu makes people entertained, as simple as that. Jadi bagaimana menjalankan bisnis dengan bagus dan sekaligus membahagiakan orang.

Sekarang ini ada kalanya yang ditampilkan old star yang masih disukai publik. Apakah hal ini atas pertimbangan pasar atau soal harga?

Bisa dua-duanya. Tapi biasanya kalau di market  soal harga itu sudah ada patokannya.  Para artis ternama sudah punya price-nya masing-masing. Tinggal beat-nya mau di mana. Mau di rainy season atau summer season dan distance-nya bagaimana. Dalam rangka tour apa tidak. Kalau tidak dalam rangka tour, mahalnya minta ampun.

Kalau begitu mesti punya ketekunan dan kejelian memantau artis dunia. Punya semacam market intelligence tersendiri ?

Iya seperti itu. Misalnya sewaktu kita membaca sebuah publikasi di luar negeri bahwa Richard Gere sebagai seorang penganut Budha selama 25 tahun belum pernah melakukan upacara agama di sebuah candi besar di dunia. Kita langsung menangkap peluang tersebut dan segera menghubungi manajemennya. Dari kontak pertama sampai Richard Gere berada di Borobudur itu, negosiasinya berlangsung selama setahun. Di depan wartawan yang mengikutinya ke Candi Borobudur, Richard Gere mengulangi pernyataannnya, this is the dream come true, since the last 25 years. Jadi kita harus  bisa menangkap keinginan para artis sejak ada dalam pikirannya atau angan-angannya untuk dijadikan peluang bisnis. Jadi kita harus pandai-pandai menangkap what they are thinking of, then makes it as opportunity buat bisnis kita.

Bagi Ndang Marwardi, dunia showbiz sejatinya juga punya idealisme untuk memajukan kehidupan bangsa. Menurut dia,  dunia showbiz harus bisa memberi jalan untuk mempromosikan Indonesia kepada dunia. Ia menunjuk kepada pengalaman pemerintah Yunani menyelenggarakan konser Yanni Chryssomallis di Acropolis pada tahun 1994 yang beberapa tahun berikutnya kunjungan wisatawan ke Yunani berlipat tujuh kali. Konser Yanni, pianis dan penggubah lagu yang namanya mendunia lewat album platinumnya “Dare To Dream” (1992), DVD live show-nya  di Acropolis mencatat rekor penjualan yang tersebar ke- 20 negara. Menurut Ndang, Indonesia punya Borobudur dan Prambanan yang sudah dikenal di dunia kenapa asset ini tidak dieksplorasi bagi keharuman nama bangsa. Ia memberi contoh lainnya ketika pengambilan shooting film “Eat, Pray and Love” yang dibintangi artis ternama Julia Roberts di Bali beberapa waktu lalu. Peristiwa ini  telah memberikan dampak besar terhadap industri pariwisata. Begitu pula dengan kunjungan Richard Gere bulan April lalu yang sempat ditanggapi positif oleh pakar pemasaran Hermawan Kartajaya.

Tindaklanjut kedatangan Richard Gere akan dilakukan seperti apa ?

Promosi pariwisata jangan sebatas destinasi saja, tapi harus diperluas juga dengan upaya bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat berbagai kegiatan. Misalnya menyelenggarakan pertunjukan musisi dunia di kawasan objek wisata seperti di Candi Borobudur dan memberikan kemudahan bagi para produser luar negeri untuk menjadikan lokasi shooting film cerita maupun dokumenter di sini. Kedatangan Richard Gere memunculkan dua agenda. Selain untuk melakukan kegiatan ritual, ada kesepakatan untuk pembuatan film. Saat ini sedang diselesaikan film dokumenter kunjungan Richard Gere di Borobudur dan nantinya diharapkan bisa ditayangkan di jaringan televisi regional maupun internasional. Pembuatan film dokumenter ini sepenuhnya dibiayai Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (KemBudpar) semasa Menteri Budpar Jero Wacik. Big Daddy saat ini sedang mempersiapkan sebuah konser musisi dunia dengan latar belakang candi Borobudur dan Prambanan. Terus terang, konser ini terinspirasi oleh konser “Yanni Live at the Acropolis” pada 25 September 1993, yang ketika diedarkan CD dan DVD-nya langsung meledak dan menempati peringkat 1 dalam tangga lagu-lagu “Bilboard  Top New Age Music” dan peringkat kelima dalam “Bilboard 200”. DVD-nya bisa bertahan selama 229 minggu dalam “Bilboard Top Music Video. Yanni Live at the Acropolis mendongkrak kunjungan wisatawan ke Yunani berlipat tujuh kali dalam tahun-tahun berikutnya setelah konser. Hal itu juga yang kami harapkan terjadi di Indonesia nantinya.

Apakah penyelenggaraan konser di Borobudur dan Prambanan akan bekerjasama dengan Kementerian Budpar yang sekarang menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Persiapannya sedang berlangsung sejak tahun lalu. Untuk detilnya belum dapat saya share di sini.

Additional Info

  • Name: Ndang Mawardi
  • Job Title: Sponsorship and Marketing Director
  • Dept.: Promoter, Ticketing & Concert Management
  • Company: PT. Prima Java Kreasi
Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

T&t Magazine © Digital Publishing Dept. - Tren Media Group. All rights reserved.

Top Desktop version