Melancong keluar negeri adalah salah satu pilihan liburan. Negara tetangga Malaysia bisa jadi pilihan yang tidak terlalu mahal. Kalau bosan dengan Singapura atau Kuala Lumpur, kota pulau Penang bisa jadi pilihan alternatif yang tidak membosankan.
Ada beberapa cara berliburan ke Penang. Orang yang tinggal di Medan dapat menggunakan angkutan laut, kapal ferry cepat regular, atau penerbangan langsung pun tersedia dari Medan. Sedangkan dari Jakarta, LCC (Low Cost Carrier) atau penerbangan dengan tarif ekonomis bisa menjadi salah satu alternatif. Tinggal pilih, Air Asia yang mulai Desember lalu terbang langsung 2 kali sehari, atau Lion Air dan Sriwijaya Air yang transit di Medan. Bahkan, dari Surabaya dengan Air Asia pun orang bisa pergi ke Penang.
Bagi sebagian orang, Penang adalah destinasi wisata kesehatan. Sudah sejak beberapa waktu terakhir, kota pulau itu dikenal memiliki rumah sakit - rumah sakit yang bagus dengan biaya kompetitif.
Untuk pecinta makanan, Penang pun terkenal sebagai tempat wisata kuliner. Cita rasa peranakan yang khas, tersaji dengan cukup lengkap di sana. Sebut saja Kwetiau khas Penang, Roti prata, sampai laksa! Semuanya dapat ditemukan di Penang. Sungguh menggoda selera.
Masih banyak obyek turisme lain. Candi dan kuil dengan patung Budha tidur berukuran raksasa, atau pantai indah dan bukit dengan pemandangan menakjubkan. Khusus untuk jalan-jalan ke bukit, di Penang tersedia sejenis wisata khusus, yaitu menaiki kereta tua peninggalan zaman kolonial Inggris, kita dibawa mendaki Penang Hill dengan rel bergerigi.
Crown jewel dari wisata ke Penang adalah jalan-jalan menelusuri kota tua peninggalan abad 19-20. Ibukota Penang - atau kalau menurut ejaan resmi Malaysia “Pulau Pinang” -- yaitu George Town, adalah salah satu obyek bersama kota Malaka, Sejak tahun 2007 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site (situs warisan dunia). Artinya, bangunan-bangunan bersejarah di sana dilindungi PBB dan dilarang dirusak. Kultur budaya setempat pun ikut dipelihara. UNESCO mengomentari George Town sebagai “Suatu wilayah kota yang unik secara arsitektur dan budaya, tanpa pararel persamaan lain di sekitar Asia Timur dan Tenggara.”
Menurut catatan sejarah, Pulau Penang sudah sejak lama menjadi kota bandar yang ramai. Bahkan, sebelum berdirinya Singapura, ia adalah hub atau semacam pelabuhan pengumpul dan tempat transit di wilayah perairan Selat Malaka, ia juga menjadi tempat pusat perdagangan yang sibuk. Kawasan kota tua di Penang menjadi saksi bisu atas sejarah masa lalunya.
Wisatawan dapat menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong di George Town. Rute perjalanan itu dikemas oleh kantor wisata pemerintah dan diberi nama “World Heritage Trail”.Biro-biro jasa perjalanan wisata pun lantas menyediakan paket-paket rombongan untuk menyusurinya.
Salah satu bangunan tua yang dapat disaksikan adalah benteng Fort Cornwallis. Bangunan ini sebetulnya sudah mulai dibangun Inggris pada akhir abad 18, namun baru sempurna berdiri pada tahun 1810. Dibangun untuk menahan serangan tentara Perancis, benteng ini kemudian menjadi pusat tinggal para tentara kolonial Inggris. Nama yang dipakai “Cornwallis” untuk mengabadikan nama gubernur jendral Inggris di India, yaitu Charles Marquis Cornwallis.
Selain tembok benteng yang masih kokoh, pengunjung dapat melihat meriam-meriam yang seolah masih siap melepaskan pelurunya kearah laut. Pada sore hari, banyak wisatawan asing maupun warga Penang yang berjalan-jalan di sekitar benteng ini, sekaligus menikmati pemandangan matahari terbenam dari pantai.
Dibatasi alun-alun luas yang disebut “Padang Kota Lama”, berseberangan dengan Fort Cornwallis, berdiri Balai Kota George Town. The City Hall, begitu penduduk kota menyebutnya, diresmikan penggunaannya pada tahun 1903 dan menjadi pusat pemerintahan kala itu. Dilengkapi dengan Town Hall di sebelahnya, hingga kini masih terlihat keanggunan kedua bangunan tua tersebut. Keanggunannya dinikmati oleh generasi ke generasi.
Sedikit ke Selatan, kita dapat menemukan Jalan Masjid Kapiten Keling dengan berbagai bangunan peribadatan. Mereka menjulukinya “the street of harmony”.Toleransi beragama terlihat jelas di kawasan ini. Ada gereja St. George Church berusia hampir 200 tahun yang menjadi Grand Dame of Southeast Asia. Kemudian ada Kuil Dewi Kwan Im (Dewi Keberuntungan) dengan loncengnya yang besar, ada pula Pura Sri Maha mariamman tempat umat Hindu. Tentu saja ada Masjid Kapitan Keling.
Masjid Kapitan Keling didisain dan dibangun oleh seorang arsitek Jerman Henry Alfred Neubronner dengan memadukan gaya arsitektur kubah Mongol, bangunan Gothic, suku Moor dan Romawi. Penggagas dan pendiri mesjid ini adalah Caudeer Mohudeen, seorang warga India Muslim yang dihormati. Berdiri pada tahun 1801, pemandangan masjid ini amat eksotis pada sore hari, dengan nuansa tembok warna krem ditingkahi warna jingga oleh kemilau mentari senja.
Banyak lagi yang dapat disaksikan di Penang World Heritage Trail.Misalnya Museum Art Gallery, Gedung State Assembly, Museum Sun YatSen, Blue Mansion sampai ke Pinang Peranakan Mansion.
Jika malas berjalan kaki, pelancong dapat menyewa becak yang bentuk nya mirip dengan becak di Indonesia. Lebih jauh, wisatawan dapat menaiki bis wisata yang beroperasi selayak nya bis kota jarak pendek, pulang pergi. Hebatnya, bis yang bersih-nyaman-ber-AC ini ternyata gratis. Ia melayani penumpang, mengangkut sampai ke terminal bis kota reguler.
Pulau Pinang terhubung melalui jembatan sepanjang 13,5 km ke daratan utama Malaysia. Dengan menggunakan bis, lewat jalan bebas hambatan antar kota sejauh lebih dari 200 km, pelancong dapat melanjutkan perjalanan nya ke Kuala Lumpur. Cuma 4-5 jam saja.
Membandingkan kota tua George Town dengan Kota tua Jakarta Kota, membuat kita iri. George Town begitu lebih bersih, terpelihara dan teratur.Infrastrukturnya terbangun dan tertata rapih.Tampak bahwa keamanan pun terjamin. Pemerintah Malaysia begitu pandai memanfaatkan status World Heritage Site untuk pengembangan pariwisata Penang. Dalam segi promosi pun mereka siap. Peta yang bagus disebarkan di bandara, promosi internet dan media lain gencar mereka buat.
Dari pengelolaan wisata kota tua George Town, pemerintah Indonesia, khususnya pemda DKI Jakarta dapat belajar banyak membenahi untuk kota tua di Ibukota. Bolehlah diharapkan Jakarta Kota segera dapat menyamai, bahkan melebihi George Town. Semoga.