Tren Facebook, Twitter atau koneksi internet di mana saja dan kapan saja membuat trafik maupun pengguna internet secara mobile sangat meningkat tajam di Indonesia.
Data hingga akhir 2011 tercatat oleh Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia, rata-rata industri mencatat pelanggan data dan broadband di Indonesia lebih dari 70 juta pelanggan atau sekitar 30% dari total pengguna selular. Terjadi peningkatan 100% dibandingkan dengan pengguna data di 2010. Dengan penggunaan data sekitar 27 ribu Terabyte transaksi data di Indonesia.
Adanya peningkatan dari penggunaan data tersebut juga diiringi dengan jumlah Base Transceiver Station (BTS) milik operator. Baik yang 2G maupun yang 3G. Hingga akhir tahun terdapat lebih dari 97 ribu BTS di mana lebih dari 22 ribu diantaranya merupakan BTS node B atau 3G yang tersebar di berbagai daerah dan melayani lebih dari 95% populasi rakyat Indonesia.
Sayang, kondisi tersebut tidak memberikan prospek yang cukup ‘cantik’ bagi operator. Pasalnya, dari sisi Average Rate Revenue operator kini hanya dikisaran Rp20 ribu saja. Masih lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2010 yang berada dikisaran Rp30 ribu.
Sebenarnya, prospek industri telekomunikasi ini masih ada. Hanya saja perlu ada langkah-langkah strategis dari para operator untuk menghadapi kondisi ini. Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama Telkomsel yang juga merupakan Ketua ATSI melihat bahwa operator harus mengejar perolehan pelanggan data karena saat ini masih 30% dari total pelanggan selular. Di mana, 65% diantaranya adalah berusia produksi dan 51% adalah anak muda. Para anak muda inilah yang menjadi peluang di Indonesia.
Di 2011 lalu, industri sudah membelanjakan investasi modal (CAPEX) secara total lebih besar dari Rp30 tiriliun. Dan 90% diantaranya digunakan untuk peningkatan jaringan dan layanan data. Nah, pada 2012 juga indutsri akan menanamkan investasi untuk mobile broadband sekitar 50 – 60%.
Namun, investasi tersebut akan menjadi mubazir ketika tidak maksimal di manfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Itu sebabnya, operator harus berupaya agar terjadi peningkatan ARPU dan Revenue dengan memanfaatkan Bandwidth dan memanfaatkan infrastuktur yang ada. Tanpa lupa untuk menyesuaikan dengan harapan konsumen. Di sisi lain operator pun harus mengurangi biaya dan menjadi profitability.
Berdasarkan kondisi tersebut dan juga trend dunia, 2012 dan seterusnya akan menjadi Ultra Broadband. Di mana kebutuhan masyarakat akan tersedianya jaringan broadband yang kuat akan semakin dibutuhkan. Namun, saat ini bagi operator invetasi yang dilakukan masih terasa sangat besar sekali terutama dilihat dari value per byte nya. Pasalnya trafik masih kecil. Di sisi lain, operator pun harus dapat mengurangi biaya sehingga dapat mengatur profitability.
Untuk mencapai era Ultra Broadband, operator harus mengejar konten dan trafik. Lalu mencari bisnis model yang baru agar masa ultra broadband tersebut dapat dicapai. Ketika era tersebut sudah tercapai maka value per byte yang dikeluarkan oleh operator pun menjadi kecil dan invetasi yang dilakukan oleh operator pun terasa lebih murah.
Yang menjadi tantangan, menurut Sarwoto adalah masyarakat Indonesia apakah sudah siap dengan bisnis model baru tersebut. Yang pasti jauh lebih rumit ke depannya. Hal inilah yang kemudian juga menjadi PR baru operator. Sebab, ketika masyarakat lebih cepat terbiasa dengan akses internet melalui 3G maka akan menimbulkan dampak yang positif bagi industri telekomunikasi Indonesia.
Setidaknya diharapkan dampak tersebut sudah dapat dirasakan pada kuartal I 2012 ini. Jika tidak maka target pertumbuhan industri telekomunikasi Indonesia yang diharapkan mampu berada di kisaran 8 – 9% akan sulit tercapai.
Salah satu yang dibutuhkan oleh industri ini adalah keberadaan ponsel pintar berkemampuan 3G dengan harga yang sangat terjangkau. ATSI berharap ponsel pintar yang bereda di Indonesia semakin banyak yang berada di kisaran 60US$ atau sekitar Rp500 ribu. Sebab, kalau dilihat dari kondisi pada akhir 2011 dan awal 2012 ini, mayoritas pengguna ponsel di Indonesia masih menggunakan terminal berkemampuan 2G atau EDGE. Sehingga wajar, jika jaringan 3G operator pun masih sangat lengang.
Bagi vendor sendiri, kondisi yang diharapkan oleh operator sendiri sedang diusahakan. Pasalnya, saat ini masih baru bisa sampai ponsel 3G feature phone. “Sedangkan untuk smartphone 3G hingga saat ini kami masih terus mengusahakan”, Ujar Martono Jaya Kusuma, CEO Selular Group menjelaskan.
Namun, untuk sampai level harga tersebut perlu ada kerjasama dengan operator. Pasalnya, vendor ponsel tidak memperoleh margin jika harus menjual secara retail dengan harga pada level tersebut.
Dukungan untuk memajukan industri telekomunikasi di Indonesia juga dibutuhkan dari para content provider. Sebelum adanya surat dari gonjang-ganjing sedot SMS yang kemudian dihentikannya layanan SMS premium, kontribusi konten ke operator bisa mencapai 7% atau sekitar Rp5 – 6 triliun. Dan kemudian turun drastis. ATSI juga berharap kondisi ini akan cepat kembali normal sehingga industri telekomunikasi pun akan tumbuh semakin baik dan lebih cepat lagi.
Dengan demikian, jumlah pelanggan seluler di Indonesia pun diperkirakan masih terus bertambah walaupun tidak terlalu besar. Pada tahun 2012 ATSI memperkirakan hanya akan terjadi penetrasi sekitar 110% dan meningkat pada 2014 menjadi 119% yang dihitung dari jumlah simcard yang digunakan. Sedangkan pada 2016 diperkirakan akan meningkat cukup tajam dengan penetrasi hingga 147%.